Tanjung Berukang – Gemuruh suara mesin perahu memecah keheningan perairan Desa Tanjung Berukang dalam gelaran Balap Ketinting, sebuah ajang bergengsi yang memadukan ketangkasan, sportivitas, dan pelestarian budaya maritim. Kegiatan ini bukan sekadar perlombaan kecepatan, melainkan simbol kebersamaan masyarakat pesisir yang terus menjaga warisan leluhur di tengah arus modernisasi.
Sinergi Pemimpin dan Masyarakat
Kegiatan ini dihadiri dan didukung penuh oleh jajaran pimpinan daerah, di antaranya:
- Kapolsek Anggana
- Sekretaris Camat Anggana
- Pj. Kepala Desa Tanjung Berukang
- Tokoh Masyarakat setempat
Kehadiran para tokoh ini memberikan suntikan semangat bagi para peserta sekaligus menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan warga dalam menjaga kearifan lokal.



Lebih dari Sekadar Lomba
Bagi masyarakat Desa Tanjung Berukang, perahu ketinting adalah nadi kehidupan. Melalui kompetisi ini, para nelayan dan pecinta otomotif air mendapatkan wadah untuk:
- Menyalurkan Hobi & Kreativitas: Memodifikasi mesin dan estetika perahu dengan standar sportivitas yang tinggi.
- Mempererat Silaturahmi: Menjadi ajang pertemuan warga antar desa di wilayah Anggana dan sekitarnya.
- Penguatan Ekonomi & Wisata: Memperkenalkan potensi bahari desa sebagai destinasi wisata alternatif yang unik.
“Deru mesin di perairan bukan sekadar kompetisi, tapi adalah detak jantung budaya maritim kita yang harus terus berdenyut.”
Kemeriahan yang Membanggakan
Antusiasme penonton terlihat memenuhi bibir pantai dan dermaga. Peserta yang datang dari berbagai desa tetangga saling beradu cepat, menciptakan suasana yang hidup dan penuh kegembiraan. Sorak-sorai penonton mengiringi setiap manuver perahu yang melaju membelah ombak, menciptakan momen ikonik yang membanggakan bagi identitas daerah.
Harapan Masa Depan
Pemerintah Desa Tanjung Berukang berharap kegiatan ini dapat menjadi agenda tahunan yang lebih besar. Dengan promosi yang tepat, Balap Ketinting diharapkan mampu menarik wisatawan lebih luas, memperkuat ekonomi lokal, dan memastikan generasi muda tetap mencintai kekayaan budaya maritim mereka.
